Didukung Oleh :

Minggu, 05 Agustus 2012

STRATIGRAFI DAERAH SULAWESI TENGGARA

Posisi sulawesi tenggara sendiri terbentuk akibat tumbukan (collition) dua buah lempeng besar, yaitu : lempeng benua yang berasal dari Australia dan lempeng samudra yang berasal dari Pasifik. Akibat tumbukan tersebut maka daerah Sulawesi tenggara berdasarkan tektonostratigrafi (mengenai ilmu stratigrafi silahkan di download disini) maka wilayah sulawesi tenggara terdiri dari 3 group utama batuan penyusunnya, yaitu :



Lihat Peta Lebih Besar


Sulawesi tenggara merupakan bagian dari pulau Sulawesi. Pulau Sulawesi sendiri berbentuk mirip huruf K, sehingga jika diibaratkan sebuah gari dengan dua buah lengan maka  letak Sulawesi tenggara berada pada lengan tenggara dari Pulau Sulawesi.


1. Continental terrane
2. Ocenic terrane
3. Sulawesi Molasse

Peta Geologi Sulawesi Tenggara (klik download file)
1. Continental terrane

Menurut Surono (1994) kepingan benua di lengan tenggara Sulawesi dinamai Mintakat Benua Sulawesi Tenggara (Southeast Sulawesi Continental Terrane) dan Mintakat Matarombeo. Ini didasari oleh keberadaan kedua kepingan ini yang cukup besar di daerah Sulawesi Tenggara. Penamaan lain untuk mintakat ini adalah Keping Benua Lajur Tinondo (Rusmana & Sukarna, 1985) dan Benua Renik Sulawesi Tenggara ( Davidson, 1991).

Mintakat benua Sulawesi Tenggara tersusun oleh Batuan tertua berupa kompleks batuan malihan (matamorfik complex) berumur paleozoikum. Kompleks batuan malihan di Sulawesi Tenggara terdiri dari sekis, kuarsit, sabak dan marmer (simanjuntak, 1993) yang melampar dari kolaka utara hingga ke selatan membentuk pegunungan Tangkelemboke, Mendoke dan Pegunungan Rumbia. Selanjutnya diterobos oleh aplit dan diabas (Surono, 1986) yang batuannya dapat dilihat di Sungai Ranteanging.

Kemudian pada akhir Trias pada mintakat benua di Sulawesi Tenggara diendapkan formasi Meluhu (Rusmana & Sukarna, 1985) yang terdiri dari batupasir kuarsa, serpih merah, batulanau dan batulumpur pada bagian bawahnya, perselingan serpih hitam, batupasir dan batugamping dibagian atasnya. Selanjutnya ditindih takselaras (unconformity) diatasnya oleh formasi Tampakura yang berumur Eosen-Oligosen (surono, 1994) yang terdiri dari oolit, mudstone, wackestone, packstone dan sisipan batupasir, serpih, lanau dan napal dibagian bawahnya. Kedua formasi tersebut merupakan batuan sedimen klastik dan batuan sedimen karbonatan. Sehingga menunjukkan pada saat mesozoikum di daerah Sulawesi Tenggara terdapat peristiwa perubahan lingkungan pendendapan dari darat menjadi laut atau terjadi peristiwa transgresi.


2. Oceanic terrane

Oceanic terrane di Sulawesi Tenggara terdiri dari kompleks ofiolit dan sedimen pelagic. Kompleks ofiolit Sulawesi Tenggara merupakan bagian dari lajur ofiolit Sulawesi Timur dimana diatasnya di tutupi oleh sedimen pelagic (apa itu sedimen pelagic silahkan kesini). Kompleks ofiolit Sulawesi Tenggara didominasi oleh batuan ultramafik dan mafik yang terdiri dari harzburgit, dunit, werlit, lerzolit, websterit, serpentinit, dan piroksinit ( kundig, 1956, simanjuntak dkk, 1993, rusmana dkk, 1993 dalam Surono, 2010). Sedangkan untuk batuan mafik terdiri atas gabro, basalt, dolerite, mikrogabro, dan amfibolit. Untuk batuan sedimen pelagic tersusun oleh batugamping laut dalam dan sisipan rijang merah (rijang radiolarian) (Hamilton, 1979, silver 1983, Simanjuntak 1986 dalam Surono, 2010).

3. Molasa Sulawesi

Molasa Sulawesi di Sulawesi Tenggara tersebar luas dan umumnya menempati bagian selatan dari jasirah Sulawesi bagian tenggara. Molasa Sulawesi yang berada di Sulawesi Tenggara terdiri atas sedimen klastik dan sedimen karbonatan. Sedimen klastik dari molasa Sulawesi terdiri atas Formasi Langkowala dan Formasi Boepinang. Sedangkan sedimen karbonat yang berasosiasi dengan batupasir adalah formasi eomoiko.

Pembahasan lebih lanjut tentang ketiga group batuan penyusun lengan tenggara Sulawesi dan tentang stratigrafi daerah Sulawesi Tenggara dapat di lihat dalam buku Publikasi Khusus Geologi Lengan Tenggara Sulawesi karangan bapak Prof. Dr. Surono terbitan Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral.

Semoga tulisan ini dapat membantu para pelajar geologi di Sulawesi Tenggara memahami secara umum kondisi geologi daerahnya sehingga bermanfaat dan menambah sedikit pengetahuan tentang bumi Sulawesi Tenggara.


Daftar Pustaka

1.   Decourt & Paquet, 1985. Geology : Principle & Methods. Graham & Trotman.
2.   Nichols, 2009. Sedimentology and Stratigraphy Second Edition. Wiley-Blackwell.

Selasa, 10 Juli 2012

NIKEL POTENSI GEOLOGI SULAWESI TENGGARA

Mineral Garnerit pada batuan ultramafik
 Nikel di Sulawesi Tenggara telah di kenal sejak jaman belanda. Data menunjukkan nikel Sulawesi Tenggara telah di eksploitasi sejak tahun 1934 oleh Oost Borneo Maatschappij (OBM) dan Bone Tolo Maatschappij.


Sejak saat itu hingga akhir perang dunia ke II, Nikel Sulawesi Tenggara telah dikelola oleh perusahaan negara bernama PT. ANTAM  hingga sekarang ini. Nikel Sulawesi Tenggara pasca tahun 2007 mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Seiring dengan naiknya demand akan nikel terutama nikel Sulawesi Tenggara.

Data Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral Sulawesi Tenggara menunjukkan tahun sebelum 2007 dari wilayah pertambangan yang tadinya hanya 2 perusahaan raksasa tambang nikel di Sulawesi Tenggara yaitu PT.ANTAM Pomalaa Sulawesi Tenggara dan PT. INCO (sekarang Vale Indonesia) tambang Sulawesi Tenggara berkembang pesat menjadi hampir mendekati 300 ijin usaha pertambangan nikel baru di Sulawesi Tenggara.

Kondisi Geologi Nikel Sulawesi Tenggara

Peta sebaran Nikel Sulawesi Tenggara
(klik disini untuk zooming)
Timbul pertanyaan mengapa nikel di Sulawesi Tenggara begitu banyak deposit nikelnya ?. berdasarkan kondisi geologi Sulawesi Tenggara, tersusun tatanan stratigrafi Sulawesi Tenggara terdiri dari keping benua, kompleks ofiolit dan molasa Sulawesi.

Kompleks ofiolit Sulawesi Tenggara adalah kompleks batuan ultra mafik, yang terdiri dari peridotit, dunit, harzburgit dan werhlit. Batuan induk bijih nikel sulawesi Tenggara  adalah batuan kompleks ofiolit Sulawesi Tengara ini. Menurut Vinogradov batuan ultra mafik rata-rata mempunyai kandungan nikel sebesar 0,2 %. Unsur nikel tersebut terdapat dalam kisi-kisi kristal mineral olivin dan piroksin, sebagai hasil substitusi terhadap atom Fe dan Mg. Unsur nikel inilah apabila terendapkan atau lebih dikenal dengan pengayaan unsur nikel maka kadarnya bisa menjadi tinggi hingga diatas 2 % nikelnya.

Prosesnya pembentukan nikel Sulawesi Tenggara sebagai berikut : Batuan ultra mafik dari kompleks ofiolit Sulawesi Tenggara, akibat perubahan iklim dan aktifitas air tanah yang kaya akan CO2 maka menghasilkan pelapukan kimia. CO2 yang berasal dari udara dan tumbuhan yang membusuk menguraikan mineral-mineral yang tidak stabil seperti olivin dan piroksen yang terdapat pada batuan ultra mafik kompleks ofiolit Sulawesi Tenggara.

Pelapukan kimia pada batuan ultra mafik kompleks ofiolit Sulawesi Tenggara    menghasilkan Mg, Fe, Ni yang larut (leached), Si cenderung membentuk koloid dari partikel-partikel silika yang sangat halus. Didalam larutan, Fe teroksidasi dan mengendap sebagai ferri-hydroksida, akhirnya membentuk mineral-mineral seperti geothit, limonit, dan haematit dekat permukaan. Bersama mineral-mineral ini selalu ikut serta unsur cobalt dalam jumlah kecil. Nikel terlarut (leached) akan terendapkan bersama mineral silica hydrous atau mensubtitusi unsur mg.
kondisi  topografi dan morfologi daerah Sulawesi Tenggara juga memegang peranan penting dalam pengayaan nikel Sulawesi Tenggara, karena kaitan topografi dan morfologi dengan posisi muka air tanah, struktur dan drainage. Zona pengayaan (enrichment) nikel Sulawesi Tenggara umumnya berada pada topografi atas upper hill slope, plateau, atau terrace. Kondisi air tanah Sulawesi Tenggara yang dangkal dengan banyaknya shear atau joint penyebab makin mempercepat proses pelarutan kimia (leaching process) yang pada akhirnya membentuk endapan nikel laterit Sulawesi Tenggara yang cukup tebal.
Cadangan Nikel di Sulawesi Tenggara
Nikel Sulawesi Tenggara memiliki cadangan yang cukup besar. Jumlah cadangan nikel Sulawesi Tenggara berdasarkan data Dinas ESDM provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 97 milyar ton dengan luas sebaran nikelnya  480 ribu Ha. Adapun status kawasan nikel di Sulawesi Tenggara terkait dengan fungsi kawasan hutan Sulawesi Tenggara dapat terbagi kedalam: nikel Sulawesi Tenggara yang berada pada kawasan lindung dan kawasan budidaya.

Nikel Sulawesi Tenggara yang masuk kedalam katagori nikel yang berada pada kawasan lindung di Sulawesi Tenggara seluas 202 ribu Ha dan nikel pada kawasan budidaya seluas 278 ribu Ha. Sedangkan penelitian dari Pusat Sumberdaya Geologi (PSDG) tentang kadar (grade)  nikel Sulawesi Tenggara dengan wilayah uji petik di 2 kabupaten yaitu Konawe dan Kolaka berkisar untuk geokimia soilnya antara 21.710 ppm = 2.17% Ni hingga minimum 665 ppm = 0.067% Ni, sedangkan untuk arah vertikalnya kedalaman di temukannya mineral garnerite yang kaya akan Ni berkisar 4.2 m hingga 7 m dengan kadar 1.4% hingga 5.5%.

Prospek Nikel Di Masa Depan

Sektor pengguna nikel
Karena sifat nikel yang khas seperti titik lelehnya 1.453 derajat celcius, dapat dibentuk berbagai tingkat baja campuran, tahan korosi, dapat dibentuk menjadi baja non magnetik, dapat diendapkan dengan electroplating, dan menunjukkan sifat katalis maka nikel dapat berkontribusi terhadap :

  1. Penyediaan Udara Bersih
  2. Penyediaan air bersih
  3. Penyediaan makanan yang higenis
  4. Penyediaan efisiensi energi
  5. Sebuah sumberdaya yang dapat didaur ulang (sumber nickel institute) www.nickelinstitute.org

Berdasarkan hasil analisis Steel Alloys Research Roskill Information Services Ltd, menyimpulkan bahwa kebutuhan nikel kedepannya tetap baik dengan alasan-alasan sebagai berikut :

  1. Stainless steel production likely to keep increasing in the coming years
  2. No reason for Chinese demand for stainless steel and nickel to slowdown in the next 3-5 years
  3. Batteries could provide a new and growing end-use for nickel
  4. New laterite capacity could be costly to bring online
  5. A large quantity of new nickel supply has been announced, will it all enter the market?

Melihat perkembangan dunia tenologi sekarang ini seperti teknologi telepon genggam dan pemanfaatan energi matahari sebagai energi alternatif menggantian mahalnya bahan bakar fosil maka kesimpulan ke 3 dari penelitian Roskill tentang pemanfaatan nikel dalam komponen pendukung catu daya (baterai) benar adanya. Sehingga diharapkan kedepan industri Nikel Sulawesi Tenggara dapat menjadi prime mover mencapai masyarakat Sulawesi Tenggara yang makmur dan sejahtera...Amin



Enhanced by Zemanta

Kolam Ikan