WOS Research id

Tampilkan postingan dengan label geologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label geologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Agustus 2012

STRATIGRAFI DAERAH SULAWESI TENGGARA

Posisi sulawesi tenggara sendiri terbentuk akibat tumbukan (collition) dua buah lempeng besar, yaitu : lempeng benua yang berasal dari Australia dan lempeng samudra yang berasal dari Pasifik. Akibat tumbukan tersebut maka daerah Sulawesi tenggara berdasarkan tektonostratigrafi (mengenai ilmu stratigrafi silahkan di download disini) maka wilayah sulawesi tenggara terdiri dari 3 group utama batuan penyusunnya, yaitu :



Lihat Peta Lebih Besar


Sulawesi tenggara merupakan bagian dari pulau Sulawesi. Pulau Sulawesi sendiri berbentuk mirip huruf K, sehingga jika diibaratkan sebuah gari dengan dua buah lengan maka  letak Sulawesi tenggara berada pada lengan tenggara dari Pulau Sulawesi.


1. Continental terrane
2. Ocenic terrane
3. Sulawesi Molasse

Peta Geologi Sulawesi Tenggara (klik download file)
1. Continental terrane

Menurut Surono (1994) kepingan benua di lengan tenggara Sulawesi dinamai Mintakat Benua Sulawesi Tenggara (Southeast Sulawesi Continental Terrane) dan Mintakat Matarombeo. Ini didasari oleh keberadaan kedua kepingan ini yang cukup besar di daerah Sulawesi Tenggara. Penamaan lain untuk mintakat ini adalah Keping Benua Lajur Tinondo (Rusmana & Sukarna, 1985) dan Benua Renik Sulawesi Tenggara ( Davidson, 1991).

Mintakat benua Sulawesi Tenggara tersusun oleh Batuan tertua berupa kompleks batuan malihan (matamorfik complex) berumur paleozoikum. Kompleks batuan malihan di Sulawesi Tenggara terdiri dari sekis, kuarsit, sabak dan marmer (simanjuntak, 1993) yang melampar dari kolaka utara hingga ke selatan membentuk pegunungan Tangkelemboke, Mendoke dan Pegunungan Rumbia. Selanjutnya diterobos oleh aplit dan diabas (Surono, 1986) yang batuannya dapat dilihat di Sungai Ranteanging.

Kemudian pada akhir Trias pada mintakat benua di Sulawesi Tenggara diendapkan formasi Meluhu (Rusmana & Sukarna, 1985) yang terdiri dari batupasir kuarsa, serpih merah, batulanau dan batulumpur pada bagian bawahnya, perselingan serpih hitam, batupasir dan batugamping dibagian atasnya. Selanjutnya ditindih takselaras (unconformity) diatasnya oleh formasi Tampakura yang berumur Eosen-Oligosen (surono, 1994) yang terdiri dari oolit, mudstone, wackestone, packstone dan sisipan batupasir, serpih, lanau dan napal dibagian bawahnya. Kedua formasi tersebut merupakan batuan sedimen klastik dan batuan sedimen karbonatan. Sehingga menunjukkan pada saat mesozoikum di daerah Sulawesi Tenggara terdapat peristiwa perubahan lingkungan pendendapan dari darat menjadi laut atau terjadi peristiwa transgresi.


2. Oceanic terrane

Oceanic terrane di Sulawesi Tenggara terdiri dari kompleks ofiolit dan sedimen pelagic. Kompleks ofiolit Sulawesi Tenggara merupakan bagian dari lajur ofiolit Sulawesi Timur dimana diatasnya di tutupi oleh sedimen pelagic (apa itu sedimen pelagic silahkan kesini). Kompleks ofiolit Sulawesi Tenggara didominasi oleh batuan ultramafik dan mafik yang terdiri dari harzburgit, dunit, werlit, lerzolit, websterit, serpentinit, dan piroksinit ( kundig, 1956, simanjuntak dkk, 1993, rusmana dkk, 1993 dalam Surono, 2010). Sedangkan untuk batuan mafik terdiri atas gabro, basalt, dolerite, mikrogabro, dan amfibolit. Untuk batuan sedimen pelagic tersusun oleh batugamping laut dalam dan sisipan rijang merah (rijang radiolarian) (Hamilton, 1979, silver 1983, Simanjuntak 1986 dalam Surono, 2010).

3. Molasa Sulawesi

Molasa Sulawesi di Sulawesi Tenggara tersebar luas dan umumnya menempati bagian selatan dari jasirah Sulawesi bagian tenggara. Molasa Sulawesi yang berada di Sulawesi Tenggara terdiri atas sedimen klastik dan sedimen karbonatan. Sedimen klastik dari molasa Sulawesi terdiri atas Formasi Langkowala dan Formasi Boepinang. Sedangkan sedimen karbonat yang berasosiasi dengan batupasir adalah formasi eomoiko.

Pembahasan lebih lanjut tentang ketiga group batuan penyusun lengan tenggara Sulawesi dan tentang stratigrafi daerah Sulawesi Tenggara dapat di lihat dalam buku Publikasi Khusus Geologi Lengan Tenggara Sulawesi karangan bapak Prof. Dr. Surono terbitan Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral.

Semoga tulisan ini dapat membantu para pelajar geologi di Sulawesi Tenggara memahami secara umum kondisi geologi daerahnya sehingga bermanfaat dan menambah sedikit pengetahuan tentang bumi Sulawesi Tenggara.


Daftar Pustaka

1.   Decourt & Paquet, 1985. Geology : Principle & Methods. Graham & Trotman.
2.   Nichols, 2009. Sedimentology and Stratigraphy Second Edition. Wiley-Blackwell.

Selasa, 10 Juli 2012

NIKEL POTENSI GEOLOGI SULAWESI TENGGARA

Mineral Garnerit pada batuan ultramafik
 Nikel di Sulawesi Tenggara telah di kenal sejak jaman belanda. Data menunjukkan nikel Sulawesi Tenggara telah di eksploitasi sejak tahun 1934 oleh Oost Borneo Maatschappij (OBM) dan Bone Tolo Maatschappij.


Sejak saat itu hingga akhir perang dunia ke II, Nikel Sulawesi Tenggara telah dikelola oleh perusahaan negara bernama PT. ANTAM  hingga sekarang ini. Nikel Sulawesi Tenggara pasca tahun 2007 mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Seiring dengan naiknya demand akan nikel terutama nikel Sulawesi Tenggara.

Data Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral Sulawesi Tenggara menunjukkan tahun sebelum 2007 dari wilayah pertambangan yang tadinya hanya 2 perusahaan raksasa tambang nikel di Sulawesi Tenggara yaitu PT.ANTAM Pomalaa Sulawesi Tenggara dan PT. INCO (sekarang Vale Indonesia) tambang Sulawesi Tenggara berkembang pesat menjadi hampir mendekati 300 ijin usaha pertambangan nikel baru di Sulawesi Tenggara.

Kondisi Geologi Nikel Sulawesi Tenggara

Peta sebaran Nikel Sulawesi Tenggara
(klik disini untuk zooming)
Timbul pertanyaan mengapa nikel di Sulawesi Tenggara begitu banyak deposit nikelnya ?. berdasarkan kondisi geologi Sulawesi Tenggara, tersusun tatanan stratigrafi Sulawesi Tenggara terdiri dari keping benua, kompleks ofiolit dan molasa Sulawesi.

Kompleks ofiolit Sulawesi Tenggara adalah kompleks batuan ultra mafik, yang terdiri dari peridotit, dunit, harzburgit dan werhlit. Batuan induk bijih nikel sulawesi Tenggara  adalah batuan kompleks ofiolit Sulawesi Tengara ini. Menurut Vinogradov batuan ultra mafik rata-rata mempunyai kandungan nikel sebesar 0,2 %. Unsur nikel tersebut terdapat dalam kisi-kisi kristal mineral olivin dan piroksin, sebagai hasil substitusi terhadap atom Fe dan Mg. Unsur nikel inilah apabila terendapkan atau lebih dikenal dengan pengayaan unsur nikel maka kadarnya bisa menjadi tinggi hingga diatas 2 % nikelnya.

Prosesnya pembentukan nikel Sulawesi Tenggara sebagai berikut : Batuan ultra mafik dari kompleks ofiolit Sulawesi Tenggara, akibat perubahan iklim dan aktifitas air tanah yang kaya akan CO2 maka menghasilkan pelapukan kimia. CO2 yang berasal dari udara dan tumbuhan yang membusuk menguraikan mineral-mineral yang tidak stabil seperti olivin dan piroksen yang terdapat pada batuan ultra mafik kompleks ofiolit Sulawesi Tenggara.

Pelapukan kimia pada batuan ultra mafik kompleks ofiolit Sulawesi Tenggara    menghasilkan Mg, Fe, Ni yang larut (leached), Si cenderung membentuk koloid dari partikel-partikel silika yang sangat halus. Didalam larutan, Fe teroksidasi dan mengendap sebagai ferri-hydroksida, akhirnya membentuk mineral-mineral seperti geothit, limonit, dan haematit dekat permukaan. Bersama mineral-mineral ini selalu ikut serta unsur cobalt dalam jumlah kecil. Nikel terlarut (leached) akan terendapkan bersama mineral silica hydrous atau mensubtitusi unsur mg.
kondisi  topografi dan morfologi daerah Sulawesi Tenggara juga memegang peranan penting dalam pengayaan nikel Sulawesi Tenggara, karena kaitan topografi dan morfologi dengan posisi muka air tanah, struktur dan drainage. Zona pengayaan (enrichment) nikel Sulawesi Tenggara umumnya berada pada topografi atas upper hill slope, plateau, atau terrace. Kondisi air tanah Sulawesi Tenggara yang dangkal dengan banyaknya shear atau joint penyebab makin mempercepat proses pelarutan kimia (leaching process) yang pada akhirnya membentuk endapan nikel laterit Sulawesi Tenggara yang cukup tebal.
Cadangan Nikel di Sulawesi Tenggara
Nikel Sulawesi Tenggara memiliki cadangan yang cukup besar. Jumlah cadangan nikel Sulawesi Tenggara berdasarkan data Dinas ESDM provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 97 milyar ton dengan luas sebaran nikelnya  480 ribu Ha. Adapun status kawasan nikel di Sulawesi Tenggara terkait dengan fungsi kawasan hutan Sulawesi Tenggara dapat terbagi kedalam: nikel Sulawesi Tenggara yang berada pada kawasan lindung dan kawasan budidaya.

Nikel Sulawesi Tenggara yang masuk kedalam katagori nikel yang berada pada kawasan lindung di Sulawesi Tenggara seluas 202 ribu Ha dan nikel pada kawasan budidaya seluas 278 ribu Ha. Sedangkan penelitian dari Pusat Sumberdaya Geologi (PSDG) tentang kadar (grade)  nikel Sulawesi Tenggara dengan wilayah uji petik di 2 kabupaten yaitu Konawe dan Kolaka berkisar untuk geokimia soilnya antara 21.710 ppm = 2.17% Ni hingga minimum 665 ppm = 0.067% Ni, sedangkan untuk arah vertikalnya kedalaman di temukannya mineral garnerite yang kaya akan Ni berkisar 4.2 m hingga 7 m dengan kadar 1.4% hingga 5.5%.

Prospek Nikel Di Masa Depan

Sektor pengguna nikel
Karena sifat nikel yang khas seperti titik lelehnya 1.453 derajat celcius, dapat dibentuk berbagai tingkat baja campuran, tahan korosi, dapat dibentuk menjadi baja non magnetik, dapat diendapkan dengan electroplating, dan menunjukkan sifat katalis maka nikel dapat berkontribusi terhadap :

  1. Penyediaan Udara Bersih
  2. Penyediaan air bersih
  3. Penyediaan makanan yang higenis
  4. Penyediaan efisiensi energi
  5. Sebuah sumberdaya yang dapat didaur ulang (sumber nickel institute) www.nickelinstitute.org

Berdasarkan hasil analisis Steel Alloys Research Roskill Information Services Ltd, menyimpulkan bahwa kebutuhan nikel kedepannya tetap baik dengan alasan-alasan sebagai berikut :

  1. Stainless steel production likely to keep increasing in the coming years
  2. No reason for Chinese demand for stainless steel and nickel to slowdown in the next 3-5 years
  3. Batteries could provide a new and growing end-use for nickel
  4. New laterite capacity could be costly to bring online
  5. A large quantity of new nickel supply has been announced, will it all enter the market?

Melihat perkembangan dunia tenologi sekarang ini seperti teknologi telepon genggam dan pemanfaatan energi matahari sebagai energi alternatif menggantian mahalnya bahan bakar fosil maka kesimpulan ke 3 dari penelitian Roskill tentang pemanfaatan nikel dalam komponen pendukung catu daya (baterai) benar adanya. Sehingga diharapkan kedepan industri Nikel Sulawesi Tenggara dapat menjadi prime mover mencapai masyarakat Sulawesi Tenggara yang makmur dan sejahtera...Amin



Enhanced by Zemanta

Senin, 02 Juli 2012

encourage Kebumian Sulawesi Tenggara

Saya menulis tentang encourage Kebumian Sulawesi Tenggara terdorong oleh perasaan haru terhadap "senior-senior" saya di bidang kebumian yang berasal dari Pusat Survey Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (PSG), Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Sulawesi Tenggara serta fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Haluoleo (UNHALU) terutama jurusan fisika prodi geologi dan geofisika.

Apa itu encourage? kok kesannya kebarat-baratan, kayak mau menyayingi bapak-bapak pejabat negara ini yang konotasinya kalo menggunakan istilah asing berarti masalah negara ini sudah di kaji dengan seksama. Bukan pula menggunakan kata encorage sekedar gagahan seperti para intelektual yang mendapatkan mainan baru.
Tapi memakai kata encourage adalah kesesuaian yang pas di hati. Baiknya kita lihat dulu arti kata encourage. Berdasarkan kamus inggris-indonesia, arti encourage adalah membesarkan hati (kata kerja), dan yang membesarkan harapan (kata sifat). Sehingga kata encourage jika di satukan dengan kalimat kebumian Sulawesi Tenggara memiliki makna membesarkan harapan untuk tumbuh dan berkembangnya ilmu kebumian di Sulawesi tenggara.

Mengapa ilmu kebumian Sulawesi Tenggara perlu di encourage oleh senior-senior kebumian indonesia ?. Wah pertanyaan ini menjadi sangat sukar, rumit, dan kompleks jawabannya. Tetapi saya coba sarikan dalam pemahaman pikiran dan hati saya serta kemampuan kosa kata indonesia yang saya miliki, maka jawaban sederhananya adalah : Karena saya hidup di bumi khususnya bumi Sulawesi Tenggara maka saya, saudara dan teman yang hidup di bumi Sulawesi tenggara seharusnya memahami bumi Sulawesi Tenggara dengan baik secara ilmu maupun dengan tutur tular (bimbingan) dari yang memahami ilmu kebumian tersebut.

Encourage pertama adalah datang dari teman-teman di Dinas ESDM Sulawesi Tenggara, dimana mereka bersedia membantu untuk memfasilitasi kedua langkah inisiasi oleh UNHALU, maka terharu saya melihat saudara dan teman-teman Sulawesi Tenggara berdiskusi dan berkerja dengan ikhlas semata-mata untuk meng-encourage Kebumian Sulawesi Tenggara  Namun hasilnya mereka berpikir masih perlu encourage dari teman-teman yang sudah cukup lama berperan di bidang kebumian ini.


Nah, dengan pemahaman di atas maka saudara dan teman saya yang berada di kampus Uiversitas Haluoleo di Sulawesi Tenggara berinisiasi untuk mencoba membangun 2 langkah untuk kita mengenali bumi Sulawesi Tenggara dengan baik serta berkelanjutan. Langkah pertama mereka berinisasi membangun sebuah fakultas kebumian dengan sekarang mengambil langkah dengan membuat 2 buah program studi (prodi) yaitu teknologi geofisika dan geologi, disusul dengan 2 buah konsentrasi studi yang salah satunya adalah geografi, dengan tujuan agar dapat memahami bumi Sulawesi Tenggara secara keilmuan. Langkah kedua adalah membentuk pengurus daerah (pengda) ikatan ahli geologi indonesia (IAGI) wilayah Sulawesi Tenggara, agar supaya mempercepat tutur tular diantara para pemaham masalah kebumian Sulawesi Tenggara.


Forum Discussion Group Tentang
Kebumian Sulawesi Tenggara
Memang kata pepatah dulu benar adanya, " dimana kebaikan berada maka Allah SWT akan menunjukkan jalannya ", gayung bersambut manakalah PSG mengadakan Sosialisasi Kebumian "Penyuluhan Guru" di Sulawesi Tenggara yang ketua rombongannya bernama bapak Ipranta (PSG) maka sebelum agenda sosialisai tersebut jalan, maka kontak-kontakan informal telah terbangun antara pak ipranta (kebetulan beliaupun pengurus pusat IAGI) dengan bapak pembantu dekan I MIPA yang saat itu di jabat oleh bapak Dr. La Ode Ngkoimani (putra asli bumi Sulawesi Tenggara dari pulau Muna) bersama penulis. Muncul ide untuk membuat suatu pertemuan formal dan informal untuk encourage kebumian Sulawesi Tenggara dengan agenda : Kuliah umum tentang kebumian di UNHALU, forum diskusi kelompok (FDG) tentang kurikulum fakultas kebumian, serta forum silahturahmi antara IAGI Pusat dengan "calon jabang" pengda IAGI Sulawesi Tenggara, disela-sela acara sosialisasi kebumian "Penyuluhan Guru".
Sekali lagi puji kepada Allah SWT. tidak  disangka-sangka oleh saya dan bapak Ngkoimani (kami) yang dari kebumian Sulawesi Tenggara bahwa ternyata yang datang untuk meluangkan waktunya meng-encourage Kebumian Sulawesi Tenggara adalah para pakar kebumian yang luar biasa bukan hanya ilmunya namun pribadi serta kami tahu adalah seabrek kesibukannya, mau membantu meng-encourage kebumian Sulawesi Tenggara. Yang datang adalah :

  1. Bapak Prof. Dr. Surono, beliau ahli geologi lengan tenggara Sulawesi dan ahli sedimentologi merupakan peneliti senior di PSG Badan Geologi.(bahan kuliah umum pak surono dapat di download di sini)
  2. Bapak Ir. Ipranta Msc, beliau ketua rombongan, kepala bidang informasi di PSG serta pakar di bidang GIS serta ketua bidang Mitigasi Bencana dan Pelestarian Lingkungan PP IAGI.
  3. Bapak Dr. Haryadi Permana, beliau menjabat Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi (LIPI) merupakan salah satu eselon II di LIPI dan ahli geophysic.
  4. Bapak Ir. Muhammad Syaiful, beliau expert di bidang Minyak dan Gas Bumi, dan CEO konsultan eksplorasi MIGAS, serta ketua bidang humas, pendidikan, dan pertemuan ilmiah tahunan PP IAGI.  


Alhamdulillah, semua kegiatan berjalan baik, dengan agenda-agenda terpenuhi serta telah terbangun bersama pemahaman tentang pentingnya kebumian di Sulawesi Tenggara serta semoga dapat menjadi bekal ke depan bagi UNHALU untuk berpikir dan bekerja didalam mewujudkan fakultas kebumiannya. Betapa pertemuan yang singkat dengan persipan seadanya namun sangat dinamis dan akrab tanpa melupakan antusiasme membuat kami dari kebumian Sulawesi Tenggara baik itu  UNHALU maupun Dinas ESDM Sulawesi Tenggara merasakan haru birunya akan kepedulian yang tinggi dari bapak-bapak ini di dalam geliat daerah membangun kebumian Sulawesi Tenggara. 

Tidak banyak kata terucap ang dapat menggantikan perasaan terima kasih kami kepada senior-senior kami tersebut...terima kasih pak Ipranta, terima kasih pak Surono, terima kasih pak Haryadi,terima kasih pak Muhammad Syaiful.....dan terima kasih kepada bapak Ngkoimani dan teman-teman baik dari UNHALU maupun Dinas ESDM Sulawesi Tenggara semoga kerjasama dan cita-cita luhur bersama dapat di ridoi Allah SWT....mari..mari membangun kebumian Sulawesi Tenggara sekarang untuk masa depan ilmu kebumian yang lebih baik...Salam..



Minggu, 01 Juli 2012

MUNA LIMESTONE FOR AGRICULTURAL LIME

Introduction

Peta Geologi Kabupaten Muna (klik perbesar)
Muna is that one of 5 big island on southeast sulawesi, from the early of figuration of Southeast Sulawesi administrative, Muna already known as one oldest kingdoms lay at southeast Sulawesi arm. Muna People known as Muna ethnic is agro culture livelihood. Their famous agro commodity is jambu mette (cashew) and Jati Muna (hardwood teak).

Muna island have uniq geology condition. Muna island almost covered by quarter limestone. with topography karts make Muna Island are famous with their exotic landscape, one of famous karst topography is Liangkabori cave. This cave not only shown some karst figure but also has fossil and prehistory human painting.

Muna island with 268.140 people live there and population density about 40 – 150 soul/km2 (BPS Sultra sensus 2010). Muna GRP almost Rp.840.242.000.000 make income percapita nearly Rp. 3,133,594 per years equal USD 348 per years (if USD 1 = Rp. 9.000). Muna economic growth is up 7% per years with unemployment decreasing under 1000 soul/years but BPS 2012 record says Muna people live under poor line is around 59.900 peoples.

Bappenas RI analysis economic growth and poor decreasing of Muna Region shown that Muna region is low growth economy but pro-poor. So the Muna government main challenge is to keep the affectivities and efficiency pro-poor program also in same time to push economic growth with some acceleration program at priority sector such as agro industry, fishery industry, services and trading.

To us as geologist on Southeast Sulawesi is question that what contribution can we make to answer this Muna problems. With our geology knowledge about characterize of earth and with a little understanding of geology economic of mineral. 

So let us as geologist expert give Muna government some positive advise to develop their economic with their geology potential to acceleration agro industry sector. We as geologist understanding that Muna geology is covered by quarter limestone. so let we give some few clearly about Muna limestone, limestone economic value and how to limestone production.

Limestone Utilize

Limestone is carbonate rock containing calcite CaCO3 dominant. Limestone with composite High Calcium become useful to plantation growth process. So Limestone with CaCO3 can be process to agricultural lime or aglime using some kind of processing with or without chemical part. Another beneficiary from limestone is this main raw material for cement industry.

Produksi Kapur Pertanian
But for low technology and low capital modal for develop economic value of Muna Region base from limestone potential. We recommended to Muna limestone use is targeting to agricultural lime. This program can be done by Muna people for their growth income percapita cause this mineral development is not use high tech and not need massive capital so poor people can be effort this industry so poor people can be decrease rapidly and another hand economic growth can be maintain.

Mining and Mineral Processing

Mining of Muna limestone for agricultural lime can be done with surface mining or quarry. Surface mining or quarry can be open pit or open cast method. Mining eguipment for Muna limestone quarry depend on how much capital their use. For poor people can be manage by koperasi and using some basic conventional tool such as mattock, shovel and cart for hauling raw material to mill plant. For Muna limestone mining equipment for small scale mining with sufficient capital can be using semi mechanizes or full mechanizes with dozer, excavator and truck.

After Muna limestone mining than material must be crashing using on milling processing into certainly size. Usually with output around size 8 to 60 mesh than by burning processing or hydro processing for next grade or final processing for Muna limestone to agricultural lime.
According to practice use in agriculture shown that agricultural lime particles between 8 mesh and 60 mesh (wikipedia) are somewhat effective and particles smaller than 60 mesh are 100 percent effective to penetrate acid soil.

Demand of agricultural lime

Demand of agricultural lime is high cause of their wide function purpose in agriculture even now is using in mining reclamation for acid soil. Agricultural lime is use in paddy farm, shrimp pond, water supply and farm.
Demand of agricultural lime will increase year after year cause primary by the application of modem chemical fertilizers is a major contributor to soil acid by the process in which the plant nutrients react in the soil (wikipedia).

People of Indonesia nearly 2 billion souls and 80% is living on village with 80% of them is farmer. Southeast Sulawesi people around 2 million and 90% is farmer. Muna people around 2 hundreds people and 92% is farmer. With dry land suitable for farms and 60% soil is need pH treatment (very acid to semi acid) than domestic demand for agricultural lime is very high.

Government Policy

In order to develop Muna limestone resources and anticipate the increase demand agricultural lime for agro industry purpose. Government of Southeast Sulawesi and Muna Regency has several top issue, which will promote the growth of investment, increasing production of Muna limestone and export of agricultural lime.
First issue for agricultural lime is to arrange some limestone area to become mining permit area for Muna local and small scale miner.
Second issue is to help sustain of agriculture lime industry than government of southeast Sulawesi dan muna must concern about suitable local regulation and simple bureaucracy for mining permit process.
Third issue is technical and financial adviser for local small scale miner to improve their technical for fertilizer product and environmental management.
Four issue is to open same private company from domestic or foreign capital but with limitazion and their must maintain local mining company and industry for Muna limestone so it will growth to gather.

We believe if this four main issue can be done than Muna limestone and agricultural lime industry can be primer industry for booster muna regency prosperously.

For more technical helping and consultation about Muna limestone and agricultural lime process including how to arranger mining permit process etc, Please contact us at Dinas ESDM Sulawesi Tenggara (Energy and Mineral Resources Service of Southeast Sulawesi) Jl. Malik Raya No. 3 Kendari-Indonesia. Tel. +62-401-3127147 or email : makkawaru@gmail.com.


Free Links Directory

Rabu, 23 Mei 2012

Potensi Bitumen Padat Pulau Buton sebagai Potensi Energi Pengganti Bahan Bakar Minyak

Bahasa Indonesia: Lokasi Kabupaten Buton di Pr...
Bahasa Indonesia: Lokasi Kabupaten Buton di Provinsi Sulawesi Tenggara Kategori:Peta penunjuk posisi di Indonesia (Photo credit: Wikipedia)


Istilah Bitumen padat (oil shale bahkan aspal) adalah merujuk kepada batuan sedimen yang mengandung material bituminous yang padat dan dapat dilepaskan menjadi minyak cair manakala batuan tersebut dipanaskan (bartis, 2005).
Oil shale is a sedimentary rock containing organic matter, kerogen, and belongs to the group of sapropel fuels (ots, 2007).
Untuk mengambil minyak dari bitumen padat maka batuan sedimen yang umumnya berukuran butir pasir hingga lanau dipanaskan dan akan menghasilkan cairan yadng cairan tersebut akan ditangkap yang dikenal dengan istilah retoring.

Potensi Sultra
Sultra dengan potensi aspal alamnya yang terkenal di dunia selain aspal alam di afrika. menjadikan sultra memiliki potensi bahan bakar fosil yang cukup besar. Potensi aspal alam di sultra yang terletak di pulau buton dengan jumlah cadangan 2.663.648.000 M3 atau setara sekitar 3.835.653.120 ton (DESDM Prov.Sultra,2011). Jika disetarakan dengan jumlah energi yang dapat dihasilkan sekitar
tatanan geologi pulau buton sendiri didapatkan potensi aspal (bitumen padat) di buton setelah dilakukan studi geokimia hidrokarbon pada conto batu aspal Fm. Sampolakosa dari daerah Lawele dan daerah Sampolawa, bitumen padat/oil shale dari Fm. Winto dari daerah Sampolawa dan minyak rembesan/oilseeps pada Fm. Tondo daerah Kapontori. Ini semua memberikan gambaran potensi hidrokarbon pada daerah sultra sangat prospek.
 Peta Aspal
Peta Sebaran Potensi Aspal di Pulau Buton
Berdasarkan analisis kandungan hidrokarbon (minyak) untuk formasi winto kandungan minyaknya sekitar 20 - 130 liter/ton dan formasi tondo kandungan minyaknya 70 - 190 liter/ton (Asep Suryana, 2005).
jika cadangan 3.835.653.120 ton tadi mengandung 20 liter minyak/tonnya maka kita bisa memiliki cadangan minyak 76.713.062.400 liter.
Bayangkan kebutuhan energi di Indonesia saja perlu bahan bakar minyak (BBM) sekitar 63 milyar liter per tahun dan Sulawesi tenggara memerlukan BBM sekitar 412.489.000 liter (BPH Migas, 2012).
Jadi seandainya potensi bitumen padat(asphalt) buton 30% cadangan di refining sebagai hidrokarbon (heavy oil) maka sultra memiliki sumber energi kurang lebih 23.013.918.720 liter. ini menunjukkan dari daerah ereke dengan ladang bitumen seluas 1000 ha saja kebutuhan energi sultra akan dapat dipenuhi hingga 55 tahun lamanya.Sungguh suatu potensi bahan bakar yang cukup tinggi dan menjanjikan bagi kebutuhan energi di Sulawesi Tenggara.
beberapa negara telah mengekploitasi bitumen padat tercatat di tahun 2008 negara seperti brasil, cina estonia dan jerman serta rusia telah berekperimen didalam pengembangan production plant dari bitumen padat ini. hasilnya digunakan sebagai minyak bakar untuk pembangkit listrik, pabrik semen, dan industri kimia (Wikipedia).
Data komite Energi Dunia (WEC) dalam tahun 2008 total produksi dari bitumen padat sekitar 930.000 ton atau setara 17.700 barrel/hari bandingkan dengan produksi minyak dan gas alam cair pada tahun yang sama sekitar 3,95 milyar ton atau 82,12 juta barrel/hari. Maka potensi pasar bitumen padat didalam mensubtitusi minyak bagi kebutuhan energi masa depan sangat menjanjikan.

Teknologi pemurnian (refiniry)
Untuk mengekstraksi bitumen padat dari batuan sedimen maka langkah pertamanya adalah menambangnya. Ada 2 metode penambangan yang dapat digunakan yaitu : Underground mining dan Surface mining.
Mengekstraksi bitumen padat pada saat ini menggunakan dua pendekatan yaitu : ekstraksi di atas permukaan (ex-situ processing) dan ekstraksi di bawah permukaan (in-situ processing).
kedua proses ini menggunakan proses kimia yang di kenal dengan nama pyrolisis, yaitu merubah kerogen didalam bitumen padat menjadi syntetic crude oil dan gas.
Caranya panas (>900°F) pada saat pyrolisis akan membuat crack kerogen sehingga melepaskan hidrokarbon dan hidrokarbon sendiri akan crack menjadi molekul hidrokarbon yang ringan.
kedua pendekatan tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Namun teknologi tentang kedua pendekatan tersebut telah ada komersialisasinya seperti Kiviter,Galoter,Fushun,dan Petrosix.

Masalah Lingkungan dalam Pengembangan Bitumen Padat
Pertambangan adalah kegiatan yang pasti memiliki dampak langsung terhadap lingkungan terutama jika tambang tersebut adalah tambang terbuka.
Demikian pula untuk tambang bitumen padat maka isu lingkungan yang paling utma adalah material logam, dan sulfur yang terekspose ke udara akibat penambangan, polusi udara dan polusi air tanah akan menjadi isu-isu yang sensitif. Perbedaan cukup signifikan hasil emisi Carbon monoksida (CO) dan carbon diokside (CO2) dari bitumen padat lebih rendah dibandingkan gasolin, tetapi tinggi dalam nitrogen oxides (NOx) dan kadar partikel abu. kita ketahui bersama bahwa NOx adalah penyebab utama dari ground-level ozone pollution (smog).

Pemanfaatan bitumen padat untuk pembangkit listrik
Kita dapat mengambil pelajaran berharga dari negara Estonia. Sebuah negara di kawasan baltik eropa utara dengan luas wilayah 45.227 km2 dengan jumlah penduduk 1,34 juta jiwa merupakan penduduk tersedikit di negara Uni eropa. Namun memiliki pedapatan perkapita yang besar dengan fokus utamanya adalah sebagai ekportir energi listrik bagi negara-negara di eropa utara atau ex-soviet.
Pertama menggunakan bitumen padat sebagai bahan bakar lokomotif setelah pada tahun 1924 mereka membangun
the Tallinn Power Plant dengan kapasitas terpasangnya 23 MW. selanjutnya pada tahun belakangn ini banyak dibangun oil shale-fired power plants di daerah utara Estonia seperti Püssi, Kohtla, Kunda, dan Kiviõli.
Dengan teknologi yang berkembang baik seperti oil shale PF technology di Kohtla-Järve Power Plant yang beroperasi sejak tahun 1949 dengan kapasitas 48 MW, dan Ahtme Power Plant, yang beroperasi sejak tahun 1951 dengan kapasitas 75.5 MW.

Sulawesi tenggara jika ingin dibandingkan dengan Estonia, dimana kedua daerah ini memiliki cadangan bitumen padat yang signifikan besarnya memang tidaklah realistik namun idealnya dengan potensi yang ada sudah selayaknya Sulawesi tenggara sebagai bagian dari NKRI memiliki arah pengembangan energi berdasarkan kekayaan alamnya, sehingga harapannya kelak terciptanya ketahanan energi Sulawesi tenggara yang akan turut serta memberikan andil dalam penciptaan ketahanan energi nasiona. Jika energi kita kuat maka fungsi strategis sebagai tuntutan fungsi pertahanan dan keamanan, konservasi energi dan peningkatan cadangan energi nasional (cadangan minyak nasional) dapat terwujud.

Mari majukan potensi geologi sultra sebagai salah satu penggerak kesejahteraan masyarakt sultra, indonesia bahkan umat dunia....amin.
Enhanced by Zemanta

Selasa, 01 Mei 2012

Potensi Geologi Kawasan Teluk Bone



Sungguh suatu karunia tuhan yang maha esa menciptakan alam dengan potensinya yang beragam sehingga dapat memberikan manfaat yang baik bagi manusia.
begitu pula dengan alam pulau sulawesi yang berbentuk unik dengan membentuk huruf "k" yang berdasarkan ilmu geologi akibat dari dua busur pulau yang beda bertemu. Busur sulawesi barat yang membentang dari selatan ke utara dan busur sulawesi timur yang membentang dari tenggara ke timur laut.

Menariknya adalah busur sulawesi barat dengan kondisi geologinya yang didominasi oleh aktifitas vulkanik dengan meninggalkan jejak gunung api baik aktif maupun tidak aktif. Kebalikan dengan kondisi geologi busur sulawesi timur yang didominasi aktifitas marine dengan meninggalkan jejak akan kompleks ofiolit dan batugamping yang sangat luas.Jika meminjam mitologi cina maka busur barat sesuai adalah unsur Yang (panas/positif)dan busur timur sebagai unsur Ying (dingin/negatif) suatu kombinasi yang serasi dan saling mengisi.

Demikian pula dengan potensi mineralnya jika busur barat kaya akan logam-logam yang berasiosiasi dengan aktivitas volkanik seperti besi, tembaga, dan emas. untuk busur timur kaya akan mineral logamnya seperti nikel, krom dan kobalt.
Lebih khusus lagi adalah daerah sekitar teluk bone dimana tempat terjadinya pertemuan antara kedua busur kepulauan sulawesi barat dan timur. Potensinya berkembang hingga di kedua daerah sekitar teluk tersebut memiliki potensi yang lebih beragam seperti minyak dan gas bumi.

Teluk bone adalah teluk yang berada di antara 8 kabupaten di wilayah administrasi Provinsi Sulawesi selatan dan 5 kabupaten di wilayah administrasi Provinsi Sulawesi tenggara. Berarti ada 2 pemerintah provinsi dan 13 pemerintah kabupaten yang berperan penting. Sungguh sesuatu potensi kerjasama yang luar biasa besar dan kuatnya. Ke tiga belas pemerintah kabupaten tersebut adalah Kab. Kepulauan Selayar, Bulukumba, Sinjai, Bone, Wajo, Luwu, Palopo, Luwu Utara, Luwu Timur, Kolaka, Kolaka Utara, Bombana, muna, dan Kota Baubau.

Untuk jumlah penduduk menurut data BPS pada tahun 2010 saja tercatat 2,859,240 jiwa berada di 8 kabupaten di Sulawesi Selatan sedangkan 1,099,173 jiwa berada di 5 kabupaten di Sulawesi tenggara. Jadi total 3,958,413 jiwa yang berdiam di sekitar teluk bone. Andaikan 50%nya saja yang merupakan usia produktif maka sekitar 1,979,206 jiwa yang dapat menjadi potensi besar bagi market dan pasar tenaga kerja.

Kembali kepada potensi sumberdaya geologinya yang berupa mineral logam dan migasnya dimana jika di satukan potensinya diantara 13 kabupaten tersebut akan menjadi kekuatan industri baja nasional dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi regional.
Potensi mineral logam besi dari data badan geologi untuk daerah Sulawesi Selatan berjumlah 152 Milyar ton dengan potensi gas sebesar 100 MMSCFD dan masih ada sekitar 563 BSCF, sedangkan dari data dinas ESDM Sultra mencatat untuk nikel sebesar 43,786,223,024 WMT.

Jika mengacu kepada PERMEN ESDM No.7 tahun 2012 tentang peningkatan nilai tambah (PNT) mineral logam terutama logam dasar besi dan nikel, pada lampiran 1 dari PERMEN tersebut mengarahkan PNT untuk besi menjadi sponge iron atau pig iron sedangkan nikel diarahkan menjadi Nikel mate, FeNi, Nickel Pig Iron atau Sponge FeNi (Crude FeNi). Artinya industri logam dasar sudah dapat teritegrasi dalam kawasan teluk bone serta memiliki kecukupan energi melalui gas alamnya yang dapat dikonversi menjadi listrik (PLTGU).

Pemerintah Sulawesi Tenggara dan pemerintah Sulawesi Selatan telah melakukan penjajakan hubungan kerjasama regional dengan nama kerjasama regional Kawasan startegi Teluk Bone. Beberapa kali pertemuan telah dilaksanakan dengan agenda utamanya adalah kerjasama dibidang kelautan perikanan, pariwisata, energi dan sumberdaya mineral.



Kesepahaman pengembangan potensi-potensi tersebut telah terjalin dan khusus untuk potensi energi dan sumberdaya mineral adalah mendorong pengembangan industri baja stainles dengan bahan baku logam aloy yang dimiliki oleh daerah di dalam kawasan teluk bone dengan menggunakan energi yang sumber utamanya adalah gas alam.

Mari kita wujudkan strategi kerjasama ini...demikian pula bagi geolog sulawesi tenggara baik itu geologi yang berada di institusi pemerintah, swasta atau bahkan asosiasi perkumpulan para ahli geologi (IAGI) untuk memberikan kontribusinya dengan melakukan inventarisasi dan pemetaan potensi logam di daerah kawasan teluk bone ini.

Maju terus geologi sultra, maju ekonomi daerah sekitar teluk bone dan jayalah indonesia.

Senin, 02 April 2012

Potensi Geologi Pulau Wawonii

Bahasa Indonesia: Lokasi Kabupaten Konawe Sela...
Bahasa Indonesia: Lokasi Kabupaten Konawe Selatan di Provinsi Sulawesi Tenggara Kategori:Peta penunjuk posisi di Indonesia (Photo credit: Wikipedia)
Wawonii adalah sebuah pulau yang berada di depan mulut teluk kendari. Dengan berpenduduk 29.769 jiwa yang mendiami pulau dengan luas 86.758 Ha. Umumnya mata pencaharian penduduknya adalah petani dan nelayan (menjadi masyarakat petani dalam arti luas). hasil utama pulau ini adalah kopra dan hasil laut yang perdagangannya kebanyakan antar pulau.

Berdasarkan program pembangunan MP3EI pulau wawonii yang masuk koridor Sulawesi-Maluku menjadi Pusat Kawasan Industri Perikanan dengan komoditi rumput laut sebagai basisnya. Sehingga dengan program pembangunan MP3EI dan program pembangunan lokal baik pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara maupun pemerintah daerah Kabupaten Konawe diharapkan kedepan pulau wawonii bisa menjadi kutub pertumbuhan daerah dan ekonomi baru.

Untuk itu geologi juga dapat berperan dalam hal melihat kondisi geologi wilayah wawonii kaitannya dengan kesesuaian lahan (land suitability) dan kemampuan lahan (land capability) dalam mendukung program MP3EI dan program pembangunan regional dan lokal.

Berdasarkan batuan pulau Wawonii tersusun oleh dominan batuan sedimen berumur tersier, batuan sedimen berumur trias dan batuan beku ultrabasa kerak samudra yang berumur jura. Struktur geologi daerah Wawonii terdiri dari Lawanopo fault system dan Hamilton fault system serta zona penunjaman Tolo(Tolo Thrust). Kedua sesar utama tersebut masih aktif dan menyebabkan wilayah pulau wawonii sering dilanda gempa-gempa tektonik.

Peta Geologi Pulau Wawonii
Potensi Sumber Daya Geologi daerah wawonii berdasarkan karakter batuan dan kontrol struktur geologinya maka sumber daya geologi yang ada adalah nikel laterit, besi laterit dan krom serta emas.

Mari kita melihat cadangan nikel laterit yang berasal dari batuan ultrabasa. Sebaran batuan ultrabasa di pulau Wawonii seluas +- 21.960 Ha sedangkan dengan level ketinggian minimum 7,4 m dpl hingga 893,262 m dpl dari data tersbut kita dapat menghitung cadangan hipotetik dari sumberdaya nikel lateritnya. Didapatkan bahwa pulau Wawonii memiliki potensi hipotetik sumber daya nikel lateritenya 865.639.325,93 m3 (metode pengukuran cut-fill).

jika cadangan ini diolah menjadi crude ferro nickel (CFN) yang berkapasitas produksi 100.000 ton/tahun dengan kebutuhan umpan 736.000 ton/tahun bijih nikel laterit maka umur tambangnya dipastikan diatas 30 tahun. Sesuatu potensi yang luar biasa besarnya dan bernilai startegis.

Namun potensi positif tersebut memiliki kendala untuk dikembangkan menjadi suatu pusat kutub pertumbuhan dan sumber ekonomi baru. Kendala utamanya adalah energi, sayangnya pulau Wawonii adalah pulau yang berada di indonesia timur serta berada pada provinsi yang masih termasuk katagori infrastruktur energi yang rendah, menjadikan perencanaan dan pembangunan infrastruktur energi bukanlah prioritas utama, karena daerah lainpun memiliki potensi yang tidak kalah luar biasa besarnya dan telah menjadi agenda nasional.

Agar daerah wawonii dapat berkembang dan menjadi wilayah investasi aktraktif maka perlu dikembangkan infrastruktur dasar termasuk infrastruktur energi.Peranan seorang geologis bagi pengembangan infrastruktur energi di daerah wawonii adalah mencari sumber-sumber potensi energi melalui pengetahuan geologinya. Salah satu ilmu geologi yang dapat diterapkan di sini adalah Geologi kelautan.

Geologi kelautan mencakup penelitian geofisika, geokimia, sedimentologi, dan paleontologi di dasar samudera dan daerah pesisir. Geologi kelautan berkaitan erat dengan oseanografi fisik dan tektonik lempeng. Berdasarkan letak geografisnya maka pulau Wawonii memiliki karakter oseonografinya sendiri dan melahirkan potensi energi lautnya yang besar karena merupakan pulau yang berada di perairan Laut Banda yang terkenal dengan kedalaman dan arusnya. Belum lagi potensi energi angin karena merupakan wilayah kepulauan sehingga umumnya angin bergerak kencang baik angin yang berasal dari darat pada siang hari maupun angin laut yang terjadi di malam hari.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pesisir dan lautan Indonesia (SIPLA) kecepatan angin di perairan pulau Wawonii antara 0.2-2 m/dt, namun untuk bulan mei dan agustus pernah tercatat kecepatan angin hingga 6 m/det. Data BMKG menunjukkan gelombang laut di sekitar perairan pulau wawonii antara 1 m hingga >2 m, bahkan pernah tercatat gelombang laut banda bisa mencapai 6 m. Jika berdasarkan data awal ini saja sdh dapat dilihat potensi energi alternatif dari pada angin dan gelombang yang berada di sekitar pulau wawonii bisa dikembangkan sebagai sumber energi penggerak sarana produksi.

Estimasi kasar potensi listrik yang dapat di bangkitkan dengan potensi angin dengan rumus P = 0,1V^3 berarti 0,1 x (2)^3 = 0,8 w/m2,jika dikembangkan dengan modifiksi turbin serta luas penampang tangkapan potensi anginnya diperbesar maka potensi energi listrik yang dapat dikembangkan menjadi lebih besar, memang untuk industri peleburan logam sumber energi ini tidak besar namun untuk sumber penggerak produksi perikanan dan pertanian maka potensi energi ini menjadi cukup dan manakala di gunakan pola hybrid dengan sinar matahari dan gelombang laut atau bahkan arus laut maka potensi energi listriknya akan bertambah besar.

Sudah selayaknya penyelidikan geologi untuk fokus kepada potensi sumber daya geologi setempat untuk tujuan pencarian sumber-sumber energi alternatif pengganti energi fosil. Perlu langkah-langkah konkrit baik pemerintah sebagai fasilitator, dan mediator untuk menyusun kerangka kebijakan terhadap kepastian usaha baik itu usaha hilir seperti penyelidikan/survey terkait survey geologi, survey energi dll, maupun usaha hulu dibidang ekploitasi potensi serta tidak lupa untuk fokus pengembangan infrastruktur dasar sehingga menjadikan daerahnya menjadi aktraktif serta menarik.

Kemudian Pihak swasta sebagai pihak pengembang dan penyalur potensi energi kelautan untuk berani memasuki bisnis energi yang pangsa pasarnya memiliki range niche yang cukup lebar, sebagaimana mereka berani menjadi pioner dibidang telekomunikasi yang sekarang dapat dinikmati hasilnya.

Dan pihak perguruan tinggi (PT) baik PTN maupun PTS lokal, agar berfokus pada penelitian-penelitian tentang pemanfaatan energi kelautan secara efisien dan efektif serta bernilai jual tinggi. Saya yakin dan pasti bahwa dengan langkah-langkah bersama maka cita-cita Wawonii menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru provinsi Sulawesi Tenggara akan terwujud.

Keep faith and hope for the best of our childreen future.....
Enhanced by Zemanta

Selasa, 20 Maret 2012

Kawasan Ekonomi Khusus Berbasis Pertambangan

LOGO PEMERINTAH SULAWESI TENGGARA
Awal tahun 2011 merupakan awal dimana kita dapat membuat sebuah refleksi perjalanan kita selama tahun 2010 dan sebagai bahan pertimbangan langkah-langkah ke depan. Meski tahun 2011 menurut kalender cina disebut juga dengan tahun kelinci logam, yang menurut para ahli feng shui maka kegiatan yang prospek adalah terkait dengan unsur logam.

Namun tulisan pada blog Geologi-untuk pembangunan sultra ini dibuat bukan sebagai bentuk memihak atau menolak kebijakan pengelolaan sumberdaya alam sultra yang di gagas oleh gubernur sultra, yaitu kawasan ekonomi khusus (KEK) berbasis pertambangan, melainkan adalah merefleksi pengelolaan pertambangan sultra yang ada selama ini dan merefleksi dasar pemikiran gubernur sultra dalam tatanan perundangan yang ada tentang pengelolaan sumber daya alam dan pengembangan suatu kawasan siap tumbuh ekonominya.

Secara historis pertambangan sultra yang terimplisit didalam logo sultra (dimana sultra terbentuk tahun 1964) sebagai identitas daerah adalah konfigurasi warna latar perisai dari logo pemda sultra mengindikasikan para founding father sultra menunjuk komoditi unggulan nikel (coklat) dan aspal (hitam) sebagai jaminan masa depan daerah sultra. Secara historis pula menunjukkan kedua komoditi ini menumbuhkan wilayah ekonomi baru pada masanya, yaitu pomalaa (nikel) dan banabungi (aspal), dimana kedua wilayah ini yang membuat wilayah Mining Estate, dijadikan pada masa-masa sekarang ini memiliki peranan (role) penting di dalam pengembangan industri logam nasional pada umumnya dan wilayah Kolaka pada khususnya.

Demikian pula peranan banabungi (pasarwajo) yang akhirnya menjadi ibukota kabupaten Buton. Mari kita membicarakan komoditi nikel sebagai komoditi unggulan. Mengapa nikel menjadi komoditi menarik, ini disebabkan nikel merupakan komponen alloy pada industri baja (up stream line) sebesar 40% dari total komponen dan menjadi bahan utama di industri baterai isi ulang (downstream line) sebesar 65% dari total komponen, yang mana subtitusi terhadap pengganti peran logam nikel belum di temukan.

Bagaimana kenyataan (fakta) lapangan, secara data empiris menunjukkan sejak di tambangnya nikel pada tahun 1934 oleh Oost Borneo Maatschaappij (dutch private company) hingga PT. ANTAM Tbk menunjukkan awal ekspor sebesar 150.000 ton bijih nikel dan menjadi di tahun 2008 menjadi 1.116.284,6 ton (Sultra dalam angka, BPS 2008), demikian pula dengan aspal di buton yang produksinya cenderung meningkat, ini menunjukkan pandangan jauh dari para founding father sultra yang kita tahu bersama beliau-beliau ini tidak ada yang ahli ekonomi regional, apalagi geologi dan pertambangan, namun beliau-beliau ini kenal dan memahami karakter wilayahnya. Sun Tzu berkata ” barang siapa mengenal diri dan lawannya maka akan menang di segala medan pertempuran”.

Berdasarkan aspek potensi sumberdaya alam nikel, maka sultra termasuk daerah yang memiliki potensi cadangan cukup besar data sumberdaya hipotetik +- 97,401,593,626 Ton bijih nikel laterit (Dinas ESDM Sultra), sehingga berdasarkan potensi jika di tambang bisa sampai ratusan tahun. Namun demikian, meski nilai ekspor nikel sultra yang tercatat oleh BPS Sultra bernilai USD. 377,634,470 atau Rp 3,700,817,806,000 (jika USD 1 = Rp. 9800) dengan prosentase 90.03% dari total nilai ekspor sultra tahun 2008. Begitu juga dengan pendapatan pemerintah daerah menunjukkan besarnya dana perimbangan keuangan pusat dan daerah dari PNBP sektor pertambangan tahun 2009 sebesar Rp. 3,732,276,372 dan naik di tahun 2010 sebesar Rp. 4,000,000,000. Dampaknya belum signifikan bagi daerah karena belum memberikan kontribusi yang nyata terhadap kesejahteraan masyarakat sultra. Ini ditunjukkan peranan sektor tersebut terhadap PDRB sultra tahun 2010 hanya 4,05%.

Belum lagi kita bicara masalah dampak lingkungan wilayah pertambangan nikel dan aspal, walaupun banyak wilayah pertambangan yang telah dikelola dengan baik, sebagai contoh daerah tambang batu bara Muara Enim (Sumsel), Sawah Lunto (Sumbar), Sangata (Kaltim), tambang nikel Sorowako (Sulsel),dan tambang emas Kelian (Kalteng). Contoh kasus lainnya adalah penambangan nikel di pomalaa adalah suatu kenyataan yang menarik terkait, dimana adanya contoh nyata pengelolaan lingkungan tambangnya masuk katagori 10 terbaik yaitu PT. ANTAM Tbk dan PT. INCO Tbk, Tetapi kenyataannya tidak berlaku bagi perusahaan penambangan di luar kedua perusahaan tersebut, dimana pengelolaan lingkungannya terlihat amburadul dan berkesan dibiarkan padahal contoh yang baik telah ada, sehingga masyarakat mencap dan menggeneralisir bahwa perusahaan tambang itu cenderung merusak lingkungan.

Ini memberikan bukti bahwa dampak lingkungan wilayah pertambangan menjadi tak terkendali dan cenderung merusak bila stake holder pertambangan tidak melakukan upaya-upaya yang nyata terhadap pengelolaan dan pemantauan lingkungannya yang celakanya dokumen-dokumen lingkungannya hanya dijadikan sebagai pemenuhan legalitas saja. Demikian pula masalah tenaga kerja, memang benar mining estate PT. Antam Tbk,telah menumbuhkan lapangan kerja yang jumlahnya +- 1.400 orang, namun karena habit atau kultur pertambangan membutuhkan tenaga dengan special skill seperti operator alat tambang, safety and maintenance, lingkungan, dan expert di bidang pertambangan serta metalurgi menyebabkan putra-putra daerah di sekitar lokasi tambang menjadi terseleksi dan terkesan tidak terakomodir akibat dari skill putra daerah yang tidak memenuhi harapan (need) industri tambang.


Dan celakanya pemerintah daerah sebagai fasilitator pembangunan serta institusi-institusi pendidikan di sultra tidak mengarahkan tenaga kerjanya kepada realitas kebutuhan pasar tenaga kerja yang ada. Sehingga kebanyakan putra-putra daerah hanya di rekrut menjadi tenaga kerja di bagian keamanan maupun tenaga kontrak kasar atau bahkan hanya sebatas penonton di wilayahnya.

Oleh karenanya didalam pengelolaan pertambangan menurut kacamata geologi seyogyanya tidak bisa hanya dikelola (manage) secara konvensional seperti sekarang ini. Namun harus di kelola dengan langkah-langkah yang baik dan berkelanjutan. Didalam pengelolaan pertambangan dewasa ini model yang mengemuka sekarang ini adalah Coorporate Social Responsibility (CSR) dimana alokasi CSR diberikan kepada masyarakat sekitar wilayah tambang yang diperuntukkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar tambang.

Namun bagaimana dengan investasi terhadap infrastruktur fisik seperti jalan, rumah sakit dan sekolah di sekitar wilayah tambang yang menjadi kewenangan pemerintah maupun kegiatan non fisik dalam rangka pengembangan ekonomi masyarakat sultra secara luas menjadi tidak tersentuh.

Ada salah satu pilahan pola kontribusi yang sering digunakan, yakni pola divestasi saham seperti antara PT. Newmont Minahasa dengan Pemda NTB (model ini telah pula di terapkan PT. Semen Tonasa dengan Pemda Pangkep), dimana porsi pemerintah daerah akan dimasukkan dan di tingkatkan prosentase kepemilikannya dengan harapan terjadi peningkatan pendapatan pemerintah yang nantinya dana tersebut digunakan sebagai belanja pemerintah dalam bentuk proyek pembangunan infrastruktur fisik maupun non fisik.

Namun kekurangannya model ini adalah serapan tenaga kerja dan peranan sektor riil seperti UMKM lokal tidak terlibat langsung sehingga perputaran ekonomi di sekitar wilayah pertambangan tidak tercipta dan kesenjangan ekonomi terus terjadi yang menyebabkan harapan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar tambang juga pastinya belum tercapai.

Untuk itu model yang sudah ada tersebut, Tulisan pada Blog Geologi-Untuk Pembangunan Sultra mencoba bersama sandingkan dengan model pengelolaan yang ditawarkan oleh Gubernur Sultra. Marilah kita lihat kebijakan Gubernur Sultra terhadap pengelolaan sumber daya tambang sultra dengan mencetuskan gagasan model pengelolaan KEK berbasis pertambangan.

Maka pikiran kita bersama adalah kira-kira suatu kawasan ekonomi yang di dalamnya adalah khusus kegiatan eksploitasi bahan galian tambang. Ini akan melahirkan beberapa masalah yang mengemuka, yaitu : 1. Bagaimana kedudukan hukumnya?, 2. Bagaimana dengan potensi SDA lainnya?, 3. Bagaimana dengan peran masyarakat yang kulturnya bukan masyarakat tambang?.

Untuk menjawab masalah pertama adalah mencari aturan perundang-undangan tentang pengelolaan sumber daya alam khususnya pengelolaan mineral ternyata di UU no. 4 tahun 2009 tentang mineral dan batubara secara aturan bahwa pemerintah menetapkan Wilayah Pertambangan (WP) dan Gubernur serta Bupati/Walikota menetapkan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP).

Di UU no. 4 tahun 2009 tidak menyatakan adanya wilayah khusus pertambangan namun PP no.22 tahun 2010 tentang wilayah pertambangan, di pasal 20 secara jelas menerangkan bahwa wilayah pertambangan merupakan kawasan peruntukan pertambangan sesuai dengan tata ruang. Demikian pula berdasarkan UU no. 39 tahun 2009 tentang kawasan ekonomi khusus sesuai pasal 3 dan pasal 4 mensyaratkan bahwa kawasan ekonomi khusus harus masuk kedalam RTRW Provinsi.Maka baik itu wilayah pertambangan dan kawasan ekonomi khusus harus terkait dengan Tata Ruang.

Mari kita lihat UU no. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang, menyebutkan bahwa wilayah pertambangan adalah masuk kawasan budidaya peruntukan pertambangan dan dapat diarahkan menjadi kawasan andalan, yang syaratnya dapat di lihat pada PP No. 26 tahun 2008 tentang rencana tata ruang wilayah nasional pasal 72,73 dan 74 dapat dipakai didalam menetapkan kawasan andalan berbasis pertambangan.

Yang perlu di cermati adalah mekanisme pengusulan rencana tata ruang berdasarkan pasal 65 harus melibatkan masyarakat. Sehingga apabila masyarakat ataupun stake holder lainnya dapat memberikan masukkan tentang baik itu wilayah pertambangan maupun KEK itu sendiri maka tempatnya di saat forum aspiratif dalam rangka penyusunan RTRW Provinsi.

Yang disayangkan adalah mekanisme pengusulan KEK berbasis pertambangan berdasarkan UU no. 39 tahun 2009 pasal 5 dan pasal 7 menyatakan bahwa pemerintah dapat menetapkan KEK dengan atau tanpa adanya persetujuan pemerintah kabupaten/kota. Menurut UU no. 39/2009 secara implisit, Gubernur tidak harus menjabarkan kebijakannya mengenai KEK kepada masyarakat Sultra maupun stake holder lainnya, hanya pemerintah pusat dalam hal ini dewan nasional dan menjadi syarat termasuk segala kelengkapannya (lihat UU no.39/2009).

Disini jelas bahwa polemik tentang perlu tidaknya gubernur menjabarkan KEK ke DPRD tidak perlu diteruskan termasuk kajian mengenai lingkungannya karena dokumen kajian lingkungannya merupakan salah satu syarat usulan KEK, namun pada saat forum aspiratif dalam rangka penyusunan RTRW provinsi yang mana KEK berbasis pertambangan termasuk bagiannya maka Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) perlu memberikan penjelasan tentang kajian akademiknya KEK berbasis pertambangan tersebut sehingga seluruh stake holder sultra termasuk DPRDnya memahami “mahluk” tersebut dengan lebih jelas.

Bagaimana dengan pertanyaan kedua, ternyata di dalam UU no. 39/2009 pada pasal 3 menunjukkan bahwa di dalam KEK terdiri dari beberapa zona yang di dalamnya dapat di peruntukkan bagi potensi-potensi lainnya yang bernilai ekonomi. Demikian pula dengna pertanyaan ketiga yaitu peran serta masyarakat dapat diakomodir di dalam KEK tersebut sesuai pasal 3 ayat 3, baik sebagai pelaku usaha maupun pendukung kegiatan. Kalau demikian bagaimana pula dengan KAPET, ternyata penyebab KEK berbeda dengan KAPET adalah dari mekanisme pembentukan kawasan, pengoperasian, dan fokus komoditi ekonominya. Salah satu contoh adalah kalau KAPET pengelolanya terdiri dari ketua gubernur, wakil ketua, serta jajaran direktur, sedangkan pengelola KEK di serahkan ke badan pengelola atau administrator KEK yang di bentuk oleh dewan kawasan diluar jabatan negara (lihat UU no.39/2009).

Memang tulisan pada Blog Geologi-Untuk Pembangunan Sultra tidak memberikan ruang yang cukup untuk terjadinya dialog yang lebih, maka kiranya perlu ada forum diskusi dan urung rembuk yang lebih komprehensif yang bisa di fasilitasi oleh pemda provinsi sultra atau stake holder lainnya, dimana pembahasannya lebih jernih, tidak apriori dan menghakimi sesuatu tanpa alasan dan fakta yang jelas.

Namun sekali lagi tulisan pada Blog Geologi-Untuk Pembangunan Sultra bukan untuk mendukung maupun menolak kebijakan gubernur sultra didalam mengelola sumberdaya alamnya tetapi hanya sebagai refleksi sebuah kebijakan yang akhirnya, kenyataanlah yang akan menentukan apakah suatu konsep pengelolaan itu baik dan dapat mencapai tujuan bersama yaitu kesejahteraan masyarakat Sulawesi tenggara.. ..wallahu a’lam bishawab.